Tuesday, April 12, 2016

(T)HERE AND NOW

Aku ragu, apakah aku yang ketinggalan zaman atau aku yang terlalu berharap banyak.
Untuk apa sih handphone kalau akhirnya kita gak bisa menikmati kondisi lingkungan yang ada saat ini juga? Untuk apa sih handphone kalau jadinya kita lebih paham kondisi orang lain yang jauh di sana tapi gak peka sama perasaan orang yang ada di samping kita?

Ah, abaikan sajalah tulisan ini. Ini hanya tulisan orang yang ngerasa diabaikan. Ini hanya drama orang yang mengharapkan kebersamaan saja. Ini hanya keegoisan si penulis saja.

Bisakah letakkan handphone-mu sejenak.

Bisakah kita bersama, here and now?

Thursday, April 7, 2016

Mazmur 73:16

Suatu sore, aku melangkah dengan ringan dan pasti. Aku terus berkata kepada pikiranku, "Ini cuma sebentar. Jangan berlebihan. Ini cuma sekejap saja, aku akan pulang. Ini masih di satu pulau yang sama. Biasa saja." Seakan semua kegelisahan dapat aku redakan dengan kata-kata tersebut.

Aku (mencoba) berpamitan seperti biasa meskipun aku tahu ini sesuatu yang tidak biasa. "Kamu membuat kesalahan besar. Bukan masalah hanya dua bulan dan jarak yang dekat, tapi kamu harus berangkat dengan doa dari bapak dan mama." Setelah selesai berdoa, orangtuaku mengucapkan beberapa hal yang menyadarkan aku bahwa ada beberapa peristiwa penting yang akan aku lewatkan.

Dua hari selang kepergianku, aku menelepon bapak dan bapak bilang bapak sudah rindu. Serius, aku tidak menyangka. Seminggu setelah kepergianku, aku mendapat kabar bapak masuk ICU. Ah, seperti hancur hatiku mendengarnya. Aku bisa apa? Aku tidak bisa pulang, kami sudah membuat kesepakatan sebelumnya mengenai hal-hal urgent seperti ini. Setelah beberapa hari, Puji Tuhan, bapak sudah keluar dari ICU dan pulang ke rumah meskipun hal itu tidak membuat hatiku lega 100%. Setiap aku telepon masih terdengar suara lirihnya. Terkadang, aku kepikiran satu peristiwa penting lainnya yang rencananya akan dilakukan tanggal 20 bulan ini. Aku tidak dapat menghadirinya juga.

Aku sadar sekarang, ini bukan masalah durasi, apalagi masalah jarak. Ini mengenai iman yang aku miliki. Banyak hal dapat terjadi yang membuat kita 'shock', tapi Tuhan tidak pernah 'shock' dengan apa yang akan terjadi, dengan apa yang kita rasakan, dengan apa yang kita lakukan.

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya - Mazmur 73:26.

another chapter.

After through a rough season of life - valley of darkness - I feel relief and can breath again.  I met someone a couple year ago. He seemed...