Sunday, August 8, 2021

alone and lonely.

Semakin tua dan dewasa, aku semakin menyadari betapa sulitnya menerima "it is what it is". Apalagi jika tidak sesuai dengan pemikiran diri sendiri. Masing-masing dari kita memiliki latar belakang dan masalah yang berbeda. Namun, seringkali manusia berlomba untuk dimengerti dan dikasihani. Seolah saling berkompetisi dalam hal penderitaan.

Ada tipe manusia yang merasa orang lain tidak berhak menderita karena tidak mengalami penderitaan yang dia rasakan. 
"Ah kamu baru saja gitu.. kamu belum ngerasain kayak aku..."
"Emang apa sih yang bikin kamu stres?"
"Kamu kan belum ada tanggungan.. apa yang bikin kamu tertekan?"
Dan pernyataan lainnya tanpa empati.
Seolah orang lain tidak memiliki hak untuk sedih apabila tidak sesuai dengan yang orang itu pikirkan.

Semakin tua dan dewasa, mungkin kita merasa sendiri dan kesepian bukan karena ketidakhadiran orang-orang di sekitarnya kita. 
Kita merasa sendiri dan kesepian karena orang lain gagal memahami kita di saat kita mengharapkan itu. 

Friday, January 15, 2021

another chapter.

After through a rough season of life - valley of darkness - I feel relief and can breath again. 

I met someone a couple year ago. He seemed a nice guy who has a physical attractiveness and sense of music that I am so interested in.  But that time, I was not so sure, then I let him go. Last year, he crossed my path again. I thought he can be my teammate or we can be a great team. And I never been better to make a big decision that time. I was really ready. 

I have my own idealism how to live this life. It can be different with others which I denied that fact. So, I accepted standards that are lower than what I desire. I gave him so many excuses which hurt me latter.

Everyone changes, but not everyone improves. Someone who could be a safe place for me became the one who would harm me, my life, and my family. And that is so horrible. I wished we're on the same side. Yet, scars are the only thing he left. 

It was a painful experience yet I get a lot of lesson learned. Fortunately, the wound is slowly moving into strength. I learned not to trust others easily, to make clear boundaries, to be assertive, and to love myself first. 

Cinta itu sederhana, yang rumit itu kamu - Langit Sore. 

Friday, April 24, 2020

Satu hembusan nafas di masa Pandemi

Siapa yang tidak sedih tiba-tiba semua harus berhenti?
Perlahan dan berjalan lebih lambat.
Tidak dapat berjumpa dengan orang yang ingin kita temui.
Atau malah justru terjebak dengan orang yang tidak kita sukai.


Tapi bukankah di masa ini juga jadi semakin banyak waktu?
Berhenti, menyadari masa kini, atau menengok sebentar ke belakang.
Kemarin mungkin kita lupa bersyukur.
Seakan detik-detik yang ada selalu kurang.


Kita lupa untuk bersyukur
Kepada alam tempat kita berpijak
Kita lupa berterima kasih
Bahkan untuk diri kita sendiri


Seakan satu hembusan nafas bukanlah apa-apa
Pandemi ini membawa kita
Kepada nilai-nilai yang dulu dilupakan
Seperti betapa mahalnya harga kedamaian.
Betapa mahalnya bersama orang terkasih.


Saat ini apa yang kamu punya ditangan kamu
Itulah yang harus disyukuri
Sekecil apapun
Sadarilah, sebelum terlambat lagi


Semua baik. Semua baik.

Friday, February 28, 2020

Membuat kaki tetap berdiri

Setiap hari rasanya seperti marathon.
Berlari dalam perjalanan.
Tapi ku tak mengerti dimana ujungnya.
Saat aku berlari dan mulai lelah.
Aku seperti meminta diriku sendiri untuk tidak berhenti lalu menlanjutkan berlari.
Setiap kali berhenti beristirahat, aku bersiap, untuk menerima tongkat melanjutkan perjalanan.
Aku terlalu awas dan aku lelah.
Terkadang aku memohon pada diriku di masa depan untuk memberikan sedikit dari kekuatannya.
Memohon pada diri sendiri untuk bertahan.
Memohon untuk tidak berhenti.
Apakah aku akan sanggup terus berlari, aku tidak tahu.
Ada ketakutan suatu saat aku akan jatuh karena kelelahan.
Saat ini aku masih punya kekuatan tapi tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.
Saat ini aku masih melaju tapi aku curiga nanti aku tidak mampu.

Tuesday, January 21, 2020

Toxic - Racun

Racun diciptakan untuk membunuh. Bentuknya juga beda-beda. Sering kali racun tidak terlihat, malah memiliki kesan menyenangkan dan tidak disadari sangkin menyenangkannya. Racun itu  biasanya ditaruh dalam perangkap supaya target tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi target.

Ibaratkan seekor tikus yang sedang lapar. Racun tikus dioles di seekor ikan. Tanpa sadar, tikus memakan ikan tersebut lalu mati. Atau kasus-kasus lain, dimana seorang pelaku menaruh racun dalam minuman korban. Korban meminumnya tanpa sadar. Beberapa waktu kemudian sang korban meninggal entah raga ataupun jiwanya.

Ketika diibaratkan melalui hewan, rasanya ya mengenaskan tapi yasudah. Namun saat memakai kasus nyata pembunuhan lewat racun, rasanya mengerikan, kan. Untuk manusia normal pada umumnya, ya, sangat mengerikan karena nyawa seseorang sangatlah berharga. Tidak ada yang berhak mengambilnya kecuali Tuhan. 

Bayangkan, kalau racun itu berupa situasi, lingkungan, atau mungkin seseorang yang Anda awalnya anggap teman. Anda tidak sadar bahwa sedikit demi sedikit perkataan teman Anda menggerogoti jiwa Anda. Atau mungkin lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif sehingga membuat Anda merasa karakter Anda semakin lama semakin buruk. Anda kehilangan minat dan semangat Anda. Seakan-akan seseorang melakukan pembunuhan karakter dengan menyebarkan berita tidak benar mengenai Anda. 
Sehingga lambat laun Anda merasa --- lebih baik tidak ada. Maka berhasilah dia membunuh kehidupan Anda.

Kalau begitu jika berada dalam lingkungan beracun tersebut apa yang harus saya lakukan ketika saya tidak dapat menghindarinya. Mau tidak mau, saya harus menghadapinya. Saya tidak nyaman. Di saat yang bersamaan saya juga berpikir, ketika saya merasa tidak nyaman, bukankah saya memberikan energi kepadanya? Jika seseorang membuat Anda susah, bukankah berarti orang itu memiliki power di atas Anda?

Saya menenangkan emosi saya, menarik nafas dalam-dalam. Mencoba bernegosiasi dengan Sang Pencipta. Sampai suatu titik saya sadar dan berserah. Mungkin inilah saatnya saya berkata: Jika boleh, cawan ini lalu padaku. Namun bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu terjadilah. 

Tuesday, January 7, 2020

Sakit Sembuh Sehat

Bulan Desember 2019 merupakan musim yang cukup mengenaskan untukku. Bermula di awal bulan, sekitar satu minggu aku merasa demam berkepanjangan. Aku pikir ini demam flu biasa yang akan hilang dengan sendirinya seperti yang sudah-sudah. Ternyata malah harus berakhir diinfus di rumah sakit sekitar tiga hari. Lalu aku istirahat sekitar seminggu di rumah.

Dua minggu kemudian, aku pergi ke Bandung yang direncanakan akan berangkat dini hari sekitar jam 4.30. Sejak malamnya aku sudah merasa tidak enak badan. Aku berpikir mungkin saja karena tidur di apartemen baru masih adaptasi dan debu yang menempel di furnitur. Akhirnya kami berangkat sekitar pukul 6.30. Di mobil aku merasa tidak enak badan, tetapi aku coba alihkan dengan make up. Sesampainya di Bandung, kami disambut dengan hujan sehingga udara menjadi sangat dingin. Akupun diare sampai lebih dari 10x. Karena sudah tidak kuat, aku ke IGD Rumah Sakit.
Setelah menghabiskan dua botol infus akhirnya aku kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, aku tinggal di rumah kakak. Awalnya aku merasa nyaman meskipun masih terasa lemas. Aku berpikir hari Senin nanti aku bisa kerja kalau aku istirahat. Namun, ternyata di hari Senin sekitar jam 2 pagi, perutku terasa sakit sekali. Apapun yang aku makan/ minum juga langsung dimuntahkan bahkan air mineral sekalipun. Karena sudah tidak tahan lagi, aku membangunkan abang dan kakak untuk mengantarku ke RS. Di IGD, aku disuntik obat antinyeri. Dokter bilang butuh beberapa jam agar rasa sakitnya benar-benar hilang. Akhirnya aku beristirahat kembali selama dua hari dan tidak pergi bekerja.

Rasanya sedih sekali sakit terus menerus. Memang kesalahanku tidak menjaga makanan dan tingkat stres yang lumayan meningkat juga saat itu. Setelah peristiwa ini, tentunya aku lebih menjaga kesehatanku dengan ekstra. Aku juga akhirnya pergi ke dokter Spesialis Penyakit Dalam, konsultan Lambung, untuk mendiskusikan keadaanku saat ini. Beliau bilang, lambungku sensitif dan tidak kuat menerima obat yang minum selama ini. Jadi aku ganti obat, ditambah suplemen makanan. Aku juga sudah tidak minum kopi atau teh. Makan coklat juga sudah jauh dikurangi. Tidak makan pedas dan mengurangi lada. Tidak beli makanan di pinggir jalan. Tidur lebih awal. Mengurangi waktu hangout.
Huaa.. Sedih tapi gapapa deh demi kesehatan.

#2020lebihsehat

Thursday, October 3, 2019

Curiosity

What does it feel when there is someone who always stand by your side?

alone and lonely.

Semakin tua dan dewasa, aku semakin menyadari betapa sulitnya menerima "it is what it is". Apalagi jika tidak sesuai dengan pemiki...