Friday, April 24, 2020

Satu hembusan nafas di masa Pandemi

Siapa yang tidak sedih tiba-tiba semua harus berhenti?
Perlahan dan berjalan lebih lambat.
Tidak dapat berjumpa dengan orang yang ingin kita temui.
Atau malah justru terjebak dengan orang yang tidak kita sukai.


Tapi bukankah di masa ini juga jadi semakin banyak waktu?
Berhenti, menyadari masa kini, atau menengok sebentar ke belakang.
Kemarin mungkin kita lupa bersyukur.
Seakan detik-detik yang ada selalu kurang.


Kita lupa untuk bersyukur
Kepada alam tempat kita berpijak
Kita lupa berterima kasih
Bahkan untuk diri kita sendiri


Seakan satu hembusan nafas bukanlah apa-apa
Pandemi ini membawa kita
Kepada nilai-nilai yang dulu dilupakan
Seperti betapa mahalnya harga kedamaian.
Betapa mahalnya bersama orang terkasih.


Saat ini apa yang kamu punya ditangan kamu
Itulah yang harus disyukuri
Sekecil apapun
Sadarilah, sebelum terlambat lagi


Semua baik. Semua baik.

Friday, February 28, 2020

Membuat kaki tetap berdiri

Setiap hari rasanya seperti marathon.
Berlari dalam perjalanan.
Tapi ku tak mengerti dimana ujungnya.
Saat aku berlari dan mulai lelah.
Aku seperti meminta diriku sendiri untuk tidak berhenti lalu menlanjutkan berlari.
Setiap kali berhenti beristirahat, aku bersiap, untuk menerima tongkat melanjutkan perjalanan.
Aku terlalu awas dan aku lelah.
Terkadang aku memohon pada diriku di masa depan untuk memberikan sedikit dari kekuatannya.
Memohon pada diri sendiri untuk bertahan.
Memohon untuk tidak berhenti.
Apakah aku akan sanggup terus berlari, aku tidak tahu.
Ada ketakutan suatu saat aku akan jatuh karena kelelahan.
Saat ini aku masih punya kekuatan tapi tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.
Saat ini aku masih melaju tapi aku curiga nanti aku tidak mampu.

Tuesday, January 21, 2020

Toxic - Racun

Racun diciptakan untuk membunuh. Bentuknya juga beda-beda. Sering kali racun tidak terlihat, malah memiliki kesan menyenangkan dan tidak disadari sangkin menyenangkannya. Racun itu  biasanya ditaruh dalam perangkap supaya target tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi target.

Ibaratkan seekor tikus yang sedang lapar. Racun tikus dioles di seekor ikan. Tanpa sadar, tikus memakan ikan tersebut lalu mati. Atau kasus-kasus lain, dimana seorang pelaku menaruh racun dalam minuman korban. Korban meminumnya tanpa sadar. Beberapa waktu kemudian sang korban meninggal entah raga ataupun jiwanya.

Ketika diibaratkan melalui hewan, rasanya ya mengenaskan tapi yasudah. Namun saat memakai kasus nyata pembunuhan lewat racun, rasanya mengerikan, kan. Untuk manusia normal pada umumnya, ya, sangat mengerikan karena nyawa seseorang sangatlah berharga. Tidak ada yang berhak mengambilnya kecuali Tuhan. 

Bayangkan, kalau racun itu berupa situasi, lingkungan, atau mungkin seseorang yang Anda awalnya anggap teman. Anda tidak sadar bahwa sedikit demi sedikit perkataan teman Anda menggerogoti jiwa Anda. Atau mungkin lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif sehingga membuat Anda merasa karakter Anda semakin lama semakin buruk. Anda kehilangan minat dan semangat Anda. Seakan-akan seseorang melakukan pembunuhan karakter dengan menyebarkan berita tidak benar mengenai Anda. 
Sehingga lambat laun Anda merasa --- lebih baik tidak ada. Maka berhasilah dia membunuh kehidupan Anda.

Kalau begitu jika berada dalam lingkungan beracun tersebut apa yang harus saya lakukan ketika saya tidak dapat menghindarinya. Mau tidak mau, saya harus menghadapinya. Saya tidak nyaman. Di saat yang bersamaan saya juga berpikir, ketika saya merasa tidak nyaman, bukankah saya memberikan energi kepadanya? Jika seseorang membuat Anda susah, bukankah berarti orang itu memiliki power di atas Anda?

Saya menenangkan emosi saya, menarik nafas dalam-dalam. Mencoba bernegosiasi dengan Sang Pencipta. Sampai suatu titik saya sadar dan berserah. Mungkin inilah saatnya saya berkata: Jika boleh, cawan ini lalu padaku. Namun bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu terjadilah. 

Tuesday, January 7, 2020

Sakit Sembuh Sehat

Bulan Desember 2019 merupakan musim yang cukup mengenaskan untukku. Bermula di awal bulan, sekitar satu minggu aku merasa demam berkepanjangan. Aku pikir ini demam flu biasa yang akan hilang dengan sendirinya seperti yang sudah-sudah. Ternyata malah harus berakhir diinfus di rumah sakit sekitar tiga hari. Lalu aku istirahat sekitar seminggu di rumah.

Dua minggu kemudian, aku pergi ke Bandung yang direncanakan akan berangkat dini hari sekitar jam 4.30. Sejak malamnya aku sudah merasa tidak enak badan. Aku berpikir mungkin saja karena tidur di apartemen baru masih adaptasi dan debu yang menempel di furnitur. Akhirnya kami berangkat sekitar pukul 6.30. Di mobil aku merasa tidak enak badan, tetapi aku coba alihkan dengan make up. Sesampainya di Bandung, kami disambut dengan hujan sehingga udara menjadi sangat dingin. Akupun diare sampai lebih dari 10x. Karena sudah tidak kuat, aku ke IGD Rumah Sakit.
Setelah menghabiskan dua botol infus akhirnya aku kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, aku tinggal di rumah kakak. Awalnya aku merasa nyaman meskipun masih terasa lemas. Aku berpikir hari Senin nanti aku bisa kerja kalau aku istirahat. Namun, ternyata di hari Senin sekitar jam 2 pagi, perutku terasa sakit sekali. Apapun yang aku makan/ minum juga langsung dimuntahkan bahkan air mineral sekalipun. Karena sudah tidak tahan lagi, aku membangunkan abang dan kakak untuk mengantarku ke RS. Di IGD, aku disuntik obat antinyeri. Dokter bilang butuh beberapa jam agar rasa sakitnya benar-benar hilang. Akhirnya aku beristirahat kembali selama dua hari dan tidak pergi bekerja.

Rasanya sedih sekali sakit terus menerus. Memang kesalahanku tidak menjaga makanan dan tingkat stres yang lumayan meningkat juga saat itu. Setelah peristiwa ini, tentunya aku lebih menjaga kesehatanku dengan ekstra. Aku juga akhirnya pergi ke dokter Spesialis Penyakit Dalam, konsultan Lambung, untuk mendiskusikan keadaanku saat ini. Beliau bilang, lambungku sensitif dan tidak kuat menerima obat yang minum selama ini. Jadi aku ganti obat, ditambah suplemen makanan. Aku juga sudah tidak minum kopi atau teh. Makan coklat juga sudah jauh dikurangi. Tidak makan pedas dan mengurangi lada. Tidak beli makanan di pinggir jalan. Tidur lebih awal. Mengurangi waktu hangout.
Huaa.. Sedih tapi gapapa deh demi kesehatan.

#2020lebihsehat

Thursday, October 3, 2019

Curiosity

What does it feel when there is someone who always stand by your side?

Stand By You - Rachel Platten

Hands, put your empty hands in mine
And scars, show me all the scars you hide
And hey, if your wings are broken
Please take mine so yours can open too
'Cause I'm gonna stand by you
Oh, tears make kaleidoscopes in your eyes
And hurt, I know you're hurting, but so am I
And love, if your wings are broken
Borrow mine so yours can open too
'Cause I'm gonna stand by you
Even if we're breaking down, we can find a way to break through
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
Yeah, you're all I never knew I needed
And the heart, sometimes it's unclear why it's beating
And love, if your wings are broken
We can brave through those emotions too
'Cause I'm gonna stand by you
Oh, truth, I guess truth is what you believe in
And faith, I think faith is helping to reason
No, no, no, love, if your wings are broken
Borrow mine so yours can open too
'Cause I'm gonna stand by you
Even if we're breaking down, we can find a way to break through
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
I'll be your eyes when yours can't shine
I'll be your arms, I'll be your steady satellite
And when you can't rise, well, I'll cry with you on hands and knees
'Cause I
(I'm gonna stand by you)
Even if we're breaking down, we can find a way to break through (come on)
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'm gonna stand by you
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, 'cause I'm gonna stand by you
Love, you're not alone
No, I'm gonna stand by you
(Even if we can't find heaven, heaven, heaven)
I'm gonna stand by you

Friday, August 16, 2019

Pelayanan Psikologis di Lapas Wanita Pondok Bambu

Di awal bulan ini, tanggal 1 Agustus 2019, aku berpartisipasi dalam kegiatan Puskesmas yang diadakan di Lapas Pondok Bambu, Jakarta. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menggerakan Wanita Usia Subur yang sudah aktif secara seksual untuk memeriksa kesehatan reproduksinya dengan IVA. Kepala Puskesmas meminta peranan psikolog untuk ikut mendukung kegiatan tersebut. Beliau ingin Wanita Usia Subur di sana sadar akan kesehatannya dan hal tersebut sesuatu yang keren. Langsung tercetus dipikiranku mengenai segitiga Maslow dan Quality of Life. Tantangannya adalah  "bagaimana mengubah konsep-konsep yang abstrak ke dalam praktek nyata sehari-hari," karena aku sadar bahwa aku tipe yang konsep banget. It's a blessing yet weakness I guess.

Well, dengan berbagai macam kegiatan dan juga alasan aku masih terus mengumpulkan ide, membaca artikel-artikel, dan materi kuliah dulu. Finally, I found the way. Lalu aku membuat power point nya, it is power point you know, it should be powerful. So then, I try (so hard) to convert the concept to the practical things. By the grace of God, of course, Voila.... It is finished..

Lalu tibalah di hari H nya. Untungnya, masuk ke daerah yang berkaitan dengan hukum bukan pertama kali untukku. Waktu kerja praktek, akupun pernah di Polda Metro Jaya and it was amazing! Aku membawa materi tersebut dan sejauh yang aku lihat, juga komentar-komentar kolega, mereka menyimak dan tertarik. Aku berasumsi mungkin karena belum ada pelayanan psikologis di sana untuk umum. Biasanya ada untuk orang-orang dengan kondisi khusus, misalnya orang dengan HIV, Narkoba, dll, yang diberikan oleh (beberapa) LSM. Setelah selesai presentasi, dijadwalkan konseling untuk empat orang yang ingin konseling. Aku agak pesimis bisa empat orang, karena aku hanya bisa sampai jam 11. Setelah itu aku ada tugas lagi di salah satu sekolah untuk membawa materi.

Di hari kedua, konseling baru mulai jam sembilan. Klien yang bisa tertangani hanya tiga orang. Satu orang lagi terlihat kecewa. Aku pun juga sebenarnya ingin melanjutkan tapi apa daya tangan tak sampai.

Meskipun bukan yang pertama, tetap saja aku selalu banyak belajar dari kehidupan di lapas. Dunia ini keras. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dimana, siapa orangtua kita, dan itu bisa menjadi alasan seseorang melakukan tindak kejahatan. Tapi ternyata, lahir di keluarga yang banyak diinginkan orang lain, juga tidak menjamin seseorang tidak bertindak melanggar hukum. Aku sendiri jadi belajar rasa cukup dan bersyukur yang menjadi tangga ke tempat lebih tinggi. Dan perlu juga teladan, bimbingan, dan pendampingan dari orangtua. Selain itu, lingkungan dan teman-teman yang produktif, menjaga tata krama, dan berprestasi juga diperlukan untuk menjaga kehidupan tetap pada jalan yang setidaknya tidak merugikan orang lain.

Pun warga yang ada di sana masih banyak yang tetap bersemangat dan menyalurkan hobi maupun keahliannya. Keren juga pikirku. Mereka aja semangat, masa aku enggak. Ada juga yang sudah tidak bisa menangis karena sudah habis air matanya. Ada juga yang tidak pernah menangis tetapi menahan perasaan sehingga akhirnya lelah. Sebenarnya kondisi-kondisi psikologis seperti itu dengan mudah bisa ditemui di depan mata kita andaikan kita mau membuka mata, melebarkan telinga, dan mengulurkan tangan kita.

Semoga apa yang sudah aku lakukan paling tidak dapat menjadi sedikit bagian dari proses pemulihan hati warga di sana.


Satu hembusan nafas di masa Pandemi

Siapa yang tidak sedih tiba-tiba semua harus berhenti? Perlahan dan berjalan lebih lambat. Tidak dapat berjumpa dengan orang yang ingin ki...